Ketika Kebenaran Tidak Berani Disuarakan

Baca Juga

Mungkin anda tidak asing dengan kata bully. kata yang tenar dalam beberapa tahun belakangan ini. kata yang sering muncul dalam kekerasan pada anak-anak dan terjadi disekolah. Namun sejatinya bully dapat terjadi dimana saja, kapan saja dan sasaran juga bisa siapa saja. 

Disini kita bahas bully di sosial media, sehingga bully bisa dilakukan terhadap siapa saja, gak pandang umur, gak pandang apa jabatannya, gak pandang apa gelarnya, semua rata. dan pelaku bully juga beragam, bisa dilakukan oleh perorangan bisa juga dilakukan oleh kelompok seperti organisasi dan media. ketika seseorang berani mengkritik, maka dia juga harus siap untuk menerima serangan bully-an. 

Pada saat menerima kritikan inilah bully-an kerap terjadi. ketika kritikan yang kita lakukan tidak dapat dijawab dengan argumentasi dan lainnya. bully-an dilakukan dengan ejekan, hinaan dari kekurangan yang dimiliki oleh penyampai kritik.ibarat kata tahi lalat yang selama ini tak terlihat, bisa kelihatan jelas. 

Bully-an ini dilakukan tidak lain untuk mengalihkan orang lain dari kritik yang sebenarnya. Orang-orang menjadi tidak lagi memperhatikan materi kritik sesungguhnya. Akibat dari bully ini, pada saat ini banyak para tokoh dan petinggi negara yang mencari aman. mengikuti arus sajalah.. walaupun ada kesalahan atau penyelewengan yang terjadi disekitar, mereka cenderung diam. memilih untuk berdamai dengan hati daripada harus berhadapan dengan opini publik yang dikembangkan. 

Kebenaran menjadi nilai yang mahal untuk disampaikan, kebenaran masih tersimpan dalam hati saja. Inilah dahsyatnya bully-an terjadi disekitar kita. 

sebagai contoh yang masih update terjadi dalam kasus pembelian sumber waras. Kita dapat melihat bagaimana BPK juga begitu dahsyat menghadapi bully-an. Jika ahok menyerang BPK secara lembaganya. teman ahoknya menyerang kredibilitas hasil pemeriksaan. media dan organisasi serta akun-akun buzzer lainnya menyerang pribadi-pribadi BPKnya. hasilnya cukup lumayan, efdinal yang dulu kepala BPK DKI Jakarta harus rela meninggalkan jabatannya. Kita ketahui efdinal diserang karena LHP pemeriksaan BPK terhadap laporan keuangan Pemprov DKI. Sementara efdinal diserang secara pribadi karena dituding ahok bahwa pemprov menolak membeli lahan yang ditawarkan efdinal. Walaupun ia telah membantahnya, namun ia kalah dengan pemberitaan dan opini. 

Untungnya materi LHP Pemeriksaan masih terus berjalan, sehingga kita masih bisa sama-sama menyaksikan bagaimana ketua BPK juga diserang melalui panama papers. Inilah fenomena lingkaran kehidupan. Bagaimana lingkaran korupsi sehingga sulit dihapuskan, tidak ada manusia yang bersih. kecuali teman yang satu itu. Kalau yang lain mungkin sudah putus duluan, lihat saja bagaimana ketua dan wakil ketua yang lama abaraham samad dan Bambang widjojanto harus tumbang karena kasus yang lain. 
sahabat indonesia berubah Ketika Kebenaran Tidak Berani Disuarakan foto:majalahembun.com

Termasuk saya sendiri gak berani bilang bersih dari salah dan dosa, namun ayo sama kita berusaha untuk lebih baik. Kata sulit dalam penghentian korupsi bukan berarti tidak bisa. Oleh karenanya tidak usah pesimis, sabar dan berusaha. Sepanjang masih ada orang-orang yang berani menyampaikan kebenaran, harapan itu masih ada. 

Salam #JakartePunyeAye membangun jakarta dengan hati. Jakarta bangkit dengan hati bersih tanpa mengedepankan kepentingan pribadi atau golongannya. Jakarta milik kita, Jakarta tanggung jawab kita. Jakarta bangkit Indonesia Bangkit.

Berita terkait :


  1. Ketika Kebenaran Tidak Berani Disuarakan 
  2. Kebenaran berita tidak ditentukan oleh medianya  
  3. Postingan sebagai Ladang Pahala dan Dosa yang terus mengalir 
  4. Kebenaran tidak ditentukan jlh like komentar dan share 
  5. Islamophobia dari dalam dan dari luar umat  

Artikel terkait

Kebenaran 8065259953911264333

Posting Komentar

Comments
0 Comments

emo-but-icon

Cari Informasi Lain

item